Selasa, November 09, 2010

INFO MERAPI

Sisi Lain Letusan Merapi
Pasir dan Abu Vulkanik Bernilai Ekonomi

Senin, 8 November 2010 | 06:53 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Pasir yang terkandung dalam material vulkanik yang dimuntahkan gunung api, termasuk Gunung Merapi, merupakan pasir kualitas terbaik untuk bahan bangunan. Adapun debu gunung berapi sangat baik digunakan untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Dosen Vulkanologi yang juga Kepala Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, saat dihubungi dari Jakarta pada Minggu (7/11/2010) mengatakan, fungsi pasir gunung api sebenarnya sama dengan pasir biasa. Namun, kandungan silika (SiO) yang tinggi membuat kualitasnya menjadi sangat baik.

Pasir gunung api baik digunakan untuk penjernih air. Pola silika yang berujung runcing membuat kemampuan pasir menyerap partikel tidak diinginkan jauh lebih baik ketimbang pasir biasa. Meski demikian, penggunaan pasir gunung api sebagai penjernih air tetap membutuhkan bahan lain, seperti zeolit dan arang kayu.

"Dalam penjernih air, fungsi pasir gunung api hanya menggantikan fungsi pasir biasa," katanya.

Pasir gunung api juga sangat baik digunakan untuk bahan beton. Ujung silika yang runcing membentuk partikel yang memiliki sudut. Pola partikel bersudut itulah yang membuat ikatan pasir gunung api dengan semen menjadi lebih kuat.

Pasir biasa memiliki ujung bulat sehingga kekuatan ikatannya dengan bahan pembuat beton lainnya lebih lemah.

Dosen Panas Bumi dan Gunung Api Institut Teknologi Bandung, Asnawir Nasution, mengatakan, selain silika, pasir gunung api juga memiliki kandungan besi (FeO). Kandungan besi pasir gunung api sangat baik karena belum mengalami pelapukan sehingga baik untuk campuran bahan bangunan.

"Pasir gunung api juga memiliki kandungan lempung yang sangat sedikit. Selain membuat beton semakin kuat, sedikitnya lempung juga akan meningkatkan daya tahan beton dan membuat tingkat kekeroposan beton lebih rendah," ucapnya.

Di Jawa Tengah, pasir Gunung Merapi menjadi incaran, sedangkan di Jawa Barat pasir Gunung Galunggung menjadi primadona. Menurut Asnawir, harga pasir Gunung Galunggung bisa mencapai Rp 900.000 per truk, sedangkan pasir biasa yang didatangkan dari Garut hanya dihargai Rp 500.000 per truk.

Unsur hara

Eko mengatakan, material vulkanik yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan hanya yang berupa pasir atau kerikil. Material berukuran besar itu hanya terdapat di sekitar letusan gunung api. Jika mencermati letusan Gunung Merapi saat ini, pasir yang dapat dipergunakan diperkirakan hanya yang berada dalam radius 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Material debu hanya dapat dimanfaatkan untuk memperkaya unsur hara dalam tanah. Kandungan unsur hara material gunung api dapat digunakan untuk menetralisasi "kecapaian" tanah yang selama ini banyak diberi pupuk anorganik.

Menurut Asnawir, fungsi debu gunung api sebagai pupuk sangat ditentukan oleh ketebalan dan lokasinya. Debu gunung yang tebal belum dapat digunakan langsung karena masih panas dan kandungan gasnya tinggi.

Dalam kasus Gunung Galunggung, lingkungan gunung yang hancur akibat debu hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk berubah menjadi hijau kembali. "Debu yang mencapai daerah jauh, seperti debu Merapi di Bandung, tetap sulit dimanfaatkan. Debu yang tipis akan mudah terbawa air hujan dan angin sehingga sulit untuk dimanfaatkan," tuturnya.

Membersihkan

Menurut Eko, dari kasus letusan Gunung Kelud, masyarakat di sekitar gunung memiliki dua sapu panjang yang dapat digunakan untuk membersihkan pasir dan debu vulkanik di rumah mereka.

Sapu pertama yang dicelupkan ke air difungsikan untuk membasahi pasir agar mudah ditarik ke bawah. Adapun sapu kedua yang dilengkapi penampung debu digunakan untuk menarik material lembab yang berada di atas genteng.

Material di atas genteng jangan disiram dengan air karena justru akan menambah berat material sisa gunung api. Karena beban bertambah, kondisi itu bisa memicu ambruknya rumah.

"Teknik melembabkan material di atas genteng dan penggunaan sapu panjang ini bisa diterapkan dalam kasus di Merapi," katanya. (MZW)

Kompas, 8 November 2010

Senin, November 01, 2010

INFO SAGKI 2010

PRESS RELEASE SAGKI 2010

SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA 2010
"Ia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup Dalam Kelimpahan"
(bdk. Yoh 10:10) 1-5 November 2010

Pada tahun 2010 ini, Gereja Katolik Indonesia akan kembali menggelar Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ("SAGKI") sebagai pertemuan rutin yang lazim diadakan setiap 5 (lima) tahun sekali. Sebagaimana halnya SAGKI 2000 dan SAGKI 2005 yang lalu, pada SAGKI 2010 ini Gereja Katolik Indonesia kembali menegaskan bahwa Gereja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari realitas bangsa Indonesia. Justru dalam konteks Indonesia yang beragam dan plural inilah, Gereja Katolik hendak menyadari dan menghidupi terus-menerus "Wajah Yesus" untuk kemudian terpanggil mewujudnyatakan panggilan perutusan Gereja untuk mewartakan Yesus, Sang Kabar Gembira Keselamatan dalam berbagai lingkup kehidupan. Sejalan dengan semangat SAGKI 2000 untuk mewujudkan dan memberdayakan Komunitas Basis untuk menuju Indonesia Baru dan SAGKI 2005 yang mengusung semangat "Bangkit dan Bergerak untuk membentuk Keadaban Publik Bangsa", maka SAGKI 2010 menjadi kesempatan Gereja, baik klerus maupun umat untuk merayakan panggilannya sebagai Gereja Yang Diutus.

Metode Narasi, yakni "saling menuturkan kisah" dan "saling mendengarkan kisah" menjadi warna yang khas dalam perayaan iman SAGKI 2010. Inilah inspirasi dari Kongres Misi Asia I yang diselenggrakan di Chiang Mai, Thailand pada tahun 2006 lalu bagi SAGKI 2010. Metode Narasi diyakini sebagai bentuk pewartaan iman paling efektif dan "khas" untuk orang Asia. Keyakinan ini ditandaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Ecclesia in Asia pada tahun 1999.

Dalam suasana perayaan yang penuh dengan kekerabatan dan bukan merupakan bentuk refleksi akademis, SAGKI 2010 akan menjadi media yang tepat bagi 385 peserta yang terdiri dari para Uskup, Imam, Biarawan-Biarawati dan Umat yang berasal dari 37 Keuskupan di Indonesia untuk saling menarasikan kisah-kisah karya evangelisasi dan pastoralnya dalam konteks Indonesia. Beragam kisah "Wajah Yesus", baik dalam lingkup Gereja lokal, dalam keberagaman umat, dalam konteks sentra-sentra perkotaan, pelosok-pelosok pedesaan, maupun dalam situasi kelompok-kelompok sosial terstruktur maupun yang tercerai berai. Situasi kontekstual yang kompleks tersebut akan terangkum dalam 3 sub tema, yakni "Mencari Wajah Yesus dalam dialog dengan budaya" (hari pertama sesi narasi); "Mengenali Wajah Yesus dalam dialog dengan Agama dan Kepercayaan lain" (hari kedua sesi narasi) dan "Mengenali Wajah Yesus dalam Pergumulan Hidup Kaum Marjinal dan Terabaikan" (hari ketiga sesi narasi). Sungguh, tiga realitas Wajah Yesus itu sungguh dominan dalam situasi berbangsa dan bernegara kita dewasa ini. Ketiga realitas tersebut menjadi cermin dari situasi kehidupan sosio-budaya, kehidupan sosio religius dan kehidupan sosio ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, wajah-wajah Yesus yang demikian jelas akan memperkaya cara beriman Gereja dan membangkitkan revitalisasi semangat misi Gereja Katolik Indonesia.

Selama sepekan ke depan, Gereja melalui SAGKI 2010 ini akan menjadikan kisah-kisah "Wajah Yesus" yang disajikan dalam bentuk Narasi Publik maupun Narasi Kelompok, perayaan, doa-doa dan ibadat, Ekaristi, maupun Ekspresi Budaya sebagai sumber kekuatan dan bentara cinta serta damai Kristus di tengah-tengah berbagai prasangka sosial-politik, serangan teror, bencana alam dan bencana buatan manusia. dan dengan keyakinan bahwa melalui Dia, rekonsiliasi itu akan terjadi dan damai yang dirindukan itu akan tercapai.

Harapannya, revitalisasi semangat perutusan para peserta SAGKI 2010 selanjutnya disebarluaskan dan ditularkan ke Keuskupan mereka masing-masing, baik melalui tuturan mereka tentang apa yang mereka alami selama mengikuti SAGKI 2010 maupun melalui dokumen tertulis dan tak tertulis tentang SAGKI 2010. Kekayaan yang dihasilkan SAGKI 2010 diharapkan dimiliki dan dihayati Gereja Indonesia melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, oleh komisi-komisi Gereja, baik di tingkat nasional (KWI) maupun di tingkat lokal (keuskupan-keuskupan).

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi:
Bapak Eddy Hidayat
(Koordinator Seksi Dokumentasi dan Humas SAGKI 2010)
Email: ediwartawan@yahoo.comediwartawan@yahoo.com>

Bandung, 29 Oktober 2010

Salam, doa 'n Berkat Tuhan,
+ Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal KWI

Rabu, Oktober 13, 2010

Salam Maria dan Rosario

oleh: P. Victor Hoagland, C.P.


Kita mengatakan Bapa “kami” dalam doa Bapa Kami. Dengan mengatakan “kami”, kita menyatakan bahwa doa bukanlah suatu tindakan yang kita lakukan seorang diri. Kita berdoa bersama dengan yang lain.

Bersama siapakah kita berdoa? Kita berdoa bersama Yesus Kristus. Yesus tidak hanya mengajar kita bagaimana harus berdoa, tetapi Ia juga berdoa bersama kita serta mempersatukan doa-doa kita dengan doa-Nya sendiri. Oleh karena kita berdoa bersama Dia, doa-doa kita seringkali diakhiri dengan kata-kata sebagai berikut: “dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah, Tuhan kita, yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Kita berdoa bersama Yesus Kristus.

Bapa “kami” berarti kita berdoa bersama yang lain juga; sebagai contoh, mereka semua yang telah dibaptis dalam nama Kristus. Doa Bapa Kami hendaknya senantiasa mengingatkan umat Kristiani akan persatuan mereka satu dengan yang lain, meskipun sayangnya, perbedaan-perbedaan masih memisahkan gereja-gereja Kristen. Kita, umat Kristen, percaya bahwa kita bersatu dalam doa; kita dapat berdoa bersama yang lain serta saling mendoakan satu sama lain. Doa merupakan sumber hidup yang mempersatukan kita semua.

Dalam Gereja Katolik, keyakinan bahwa kita bersatu dalam doa dengan yang lain diungkapkan dalam doa kepada Bunda Maria, Bunda Yesus, dan kepada para kudus. “Kita percaya akan persekutuan para kudus” yang berdoa bersama kita dan bagi kita, dalam persatuan dengan Yesus Kristus.

Doa yang indah bagi Bunda Maria dalam tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus, menjadi perhatian umat Kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat serta kebangkitan Kristus. Bagian awal doa merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret, menurut Injil Lukas:

Salam Maria,
penuh rahmat,
Tuhan sertamu,

Dengan perkataan tersebut, malaikat Tuhan menyatakan belas kasih Ilahi. Tuhan akan menyertai Maria. Maria akan melahirkan Yesus Kristus ke dunia.

Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya, seperti ditulis dalam Injil St. Lukas:

terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.

Dan akhirnya, pada abad ke-15, bagian doa selanjutnya ditambahkan:

Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati.

Bagian doa tersebut memohon kepada Maria, yang penuh rahmat serta dekat dengan Putra-nya, untuk mendoakan kita orang berdosa, sekarang dan saat ajal menjelang. Bersama dengan murid kepada siapa Yesus mempercayakan ibunda-Nya di Kalvari dengan mengatakan “Inilah ibumu!”, kita mengakui Bunda Maria sebagai bunda kita. Bunda Maria akan senantiasa mendekatkan kita pada Kristus. Sejak dari permulaan Bunda Maria mengenal-Nya; ia menjadi saksi atas hidup, wafat dan kebangkitan Kristus; tidakkah Bunda Maria akan membantu kita untuk lebih mengenal Putra-nya dan misteri hidup-Nya? Kita mengandalkan belas kasih Bunda Maria kepada kita seperti yang ia lakukan bagi pasangan pengantin di Kana, di Galilea. Kita mempercayakan segala kebutuhan kita kepada Bunda Maria.

Pada akhir abad ke-16, kebiasaan mendaraskan 150 Salam Maria dalam suatu rangkaian doa atau perpuluhan menjadi populer di kalangan umat Kristiani. Dalam doa-doa tersebut, peristiwa-peristiwa hidup, wafat dan kebangkitan Yesus direnungkan. Praktek doa itu sekarang dikenal sebagai Doa Rosario.

Bunda Maria senantiasa menjadi teladan iman dan pelindung orang-orang Kristen yang percaya. Ketika Malaikat Gabriel datang kepadanya, ia percaya akan warta yang disampaikan malaikat dan tetap teguh pada imannya tanpa ragu sedikit pun meskipun harus melewati pencobaan gelap Kalvari. Bunda Maria mendampingi kita juga yang adalah saudara dan saudari Putra-nya, sepanjang ziarah kita di dunia yang penuh dengan kesulitan dan mara bahaya.

Selama berabad-abad telah banyak umat Kristiani mengakui bahwa Salam Maria dan Rosario merupakan sumber rahmat rohani. Doa rosario adalah doa yang sederhana sekaligus mendalam. Rosario dapat dilakukan siapa saja, pengulangan kata-katanya mendatangkan kedamaian bagi jiwa. Renungan akan kisah hidup Yesus dalam peristiwa-peristiwa gembira, cahaya, sedih, maupun mulia dimaksudkan agar diamalkan dalam hidup kita sendiri. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut, kita berharap untuk “meneladani apa yang diteladankan dan memperoleh apa yang dijanjikan”.

sumber : “The Hail Mary and the Rosary” by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer “ diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”
MARIA, CO - REDEMPTRIX


Co-Redemptrix, apa maksudnya?

Menurut arti bebasnya, Co- artinya adalah ‘dengan’. Maka menurut definisinya yang dikenal dalam Mariologi, Co-Redemptrix mengacu kepada partisipasi Bunda Maria yang tidak langsung namun sangat penting dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Dalam arti inilah Bunda Maria bekerja sama dengan Yesus dalam rencana Keselamatan Allah. Namun, partisipasi Maria dalam karya keselamatan ini sepenuhnya tergantung dan berada di bawah peran Kristus, Putera-Nya.

Maka, dengan mengatakan Maria sebagai Co-Redemptrix, kita tidak menjadikan Bunda Maria sejajar dengan Yesus dalam karya keselamatan. Bunda Maria sendiri tetap memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dalam hal ini untuk menjadikannya kudus tanpa noda sejak dalam kandungan, dan karena itu tidak mungkin Bunda Maria memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus.

Bagaimana Maria melakukannya?

Bunda Maria dikatakan sebagai Co- Redemptrix karena dua hal utama, yaitu atas ketaatannya pada saat menerima kabar gembira, dan ketaatan selama hidupnya, yang memuncak di kaki salib Yesus. Saya ingin mengutipnya dari tulisan pakar Mariologi yang bernama Mark Miravalle, S.T.D, yang mengajarkan:[1].

1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, yang berupa sebuah ‘undangan’ untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah, dengan menjadi ibu bagi Yesus sang Penyelamat. Maria menanggapi undangan ini dengan kesediaannya mengizinkan penjelmaan Yesus menjadi manusia ini mengambil tempat di dalam rahimnya. Para Bapa Gereja di abad-abad awal mengajarkan bahwa Inkarnasi dan Karya keselamatan sebagai suatu kesatuan tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia. Maka terlihat di sini peran Maria yang sangat penting sebab oleh ketaatannya, ia membawa Kristus Sang Penyelamat ke dunia, melalui Inkarnasi. Oleh Maria, maka ayat ini tergenapi, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” (Yoh 1:14)

Dengan demikian Maria menjadi Hawa yang baru. Sebab oleh ketidaktaatan Hawa yang pertama, umat manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Maria (Hawa yang baru) umat manusia memperoleh Sang Penyelamatnya. St Irenaeus (180) berkata, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.”[2]. Dan karena tubuh Yesus, sebagai alat Keselamatan (lih. Ibr 10:10) diberikan kepada Yesus oleh Maria saat Ia terbentuk dalam rahimnya, maka Maria sebagai Ibu Yesus memiliki peran yang sangat istimewa dalam keselamatan manusia, yang tidak dapat dibandingkan dengan semua ciptaan lainnya.

Paus Yohanes Paulus mengatakan bahwa pada saat mengatakan “YA”/ Fiat pada kabar Malaikat itu, maka iman Maria dapat disejajarkan dengan iman Bapa Abraham yang menandai permulaan Perjanjian Lama antara Tuhan dengan umat-Nya. Iman Maria menandai dimulainya Perjanjian Baru. Seperti halnya Bapa Abraham yang percaya “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap” (Rom 4:18) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa padahal pada saat janji itu diberikan ia belum mempunyai keturunan, maka Mariapun juga percaya, bahwa meskipun ia tetap perawan (tidak bersuami), ia akan melahirkan seorang Anak atas kuasa Roh Kudus, dan “Anaknya itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35).[3].

2. Maria secara unik berpartisipasi dalam kurban salib Yesus demi keselamatan umat manusia. Di kaki salib Kristus, Bunda Maria mempersembahkan kepada Allah hak-haknya sebagai ibu, segala belas kasih, dan penderitaannya yang tak terlukiskan melihat Putera-Nya sendiri disiksa sampai wafat.

Di kayu salib inilah, menurut Paus Yohanes Paulus II, Bunda Maria melihat seolah-olah kebalikan dari perkataan Malaikat di saat menerima kabar gembira, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33) Di kayu salib ini, terpampang di hadapan matanya kenyataan yang begitu memilukan, “Ia (Yesus) dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan…. (Yes 53:3-5). Betapa besarnya ketaatan Maria yang menyerahkan diri seutuhnya, segala “akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang keputusan dan jalan-jalan-Nya tak terselami! (Lih. Rom 11:33). Dengan cara inilah Maria berpartisipasi dalam “pengosongan diri” yang dilakukan oleh Yesus di kayu salib (lih. Flp 2: 5-8). Ini mungkin adalah suatu bentuk “pengosongan diri” yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Di sinilah terpenuhi nubuat Simeon, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri…” (Luk 2:35).[4]

Para Bapa Gereja membandingkan iman Maria di kaki salib Kristus ini dengan iman Bapa Abraham yang mempersembahkan Ishak anaknya sebagai persembahan kepada Tuhan.

Dasar Kitab Suci

Sebenarnya, tidak sulit untuk menerima ajaran bahwa Bunda Maria disebut sebagai “Co- Redemptrix” kalau kita dapat menerima pengajaran sebagai berikut:

1. 1 Kor 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah ….” Jika kita semua saja adalah kawan sekerja Allah dalam rencana Keselamatan, tentulah Bunda Maria yang membawa Kristus ke dunia adalah kawan sekerja Allah yang begitu istimewa. Sebab tanpa ketaatannya melalui kehendak bebasnya, maka Yesus tidak lahir ke dunia.

2. Kolose 1:24: Rasul Paulus mengajarkan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Maka dengan penderitaannya, yang dipersatukan dengan penderitaan Kristus di kayu salib, Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Memang korban penebusan Kristus telah digenapi dengan sempurna di Golgota, namun demikian, penerapan korban penebusan ini kepada semua manusia masih berlanjut sepanjang sejarah manusia. Itulah sebabnya, di dalam hidup kita sebagai anggota Tubuh Kristus di dunia, kita masih mengalami penderitaan. Maka kita layak untuk mencontoh teladan Bunda Maria yang menyerahkan segala penderitaannya dan mempersatukannya dengan korban Yesus di kayu salib, agar dengan demikian kitapun, dengan porsinya masing-masing, mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

3. Yoh 2:5: Maria Ibu Yesus berkata…. “Apa yang dikatakan kepadamu, (oleh Yesus) buatlah itu!”
Sebagaimana yang terjadi di Kana, Bunda Maria sangat memperhatikan kebutuhan umat beriman. Namun apa yang dikatakannya selalu mempunyai Kristus sebagai pusatnya, dan ia membawa para beriman untuk menaati perintah Yesus.

Maria, Co- Redemptrix menurut Bapa Gereja

Walaupun sampai saat ini pengajaran bahwa Maria sebagai Co-Redemptrix belum diangkat secara definitif menjadi Dogma, namun sebenarnya, dasar pengajaran ini telah ada sejak lama. St. Yustinus (100) adalah Bapa Gereja yang pertama yang mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Kemudian, murid Rasul Yohanes, St. Irenaues (180), juga mengajarkan tentang peran Maria sebagai Hawa yang baru, yang berkerjasama dengan Adam yang baru yaitu Kristus untuk menyelamatkan dunia. Ia mengkontraskan ketidaktaatan Hawa dengan ketaatan Maria. Kesaksian St. Irenaeus tentu sangat penting, karena ia adalah murid dari St/ Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan Bunda Maria di saat ajal-Nya di kayu salib. (Yoh 19:25). Kesaksian St. Irenaeus ini banyak dikutip oleh para Bapa Gereja, dan dikutip pula dalam dokumen Konsili Vatikan II.[5]

Tertullian (abad ke 3), juga mengajarkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru. Ia mengkontraskan bahwa Hawa percaya pada perkataan sang ular/Iblis, sedangkan Maria percaya kepada perkataan Malaikat.[6] Selanjutnya, St. Agustinus (354-430), St, Yohanes Damascene (754-787) dan St. Thomas Aquinas (1225-1274), mengajarkan hal yang sama, diikuti oleh banyak para kudus lainnya. Dengan prinsip Maria sebagai Hawa yang baru, maka tidak sulit untuk memahami mengapa Bunda Maria disebut sebagai Co-Redemptrix.

Pengajaran para Paus

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Paus tentang Maria sebagai Co- Redemptrix:[7]

1. Paus Pius Benediktus XV (1918) dalam Surat Apostoliknya mengatakan, “Pada tingkat yang tak terlukiskan, Maria menderita dan hampir mati dengan Anak-nya yang menderita dan mati, dan dengan demikianlah ia menyerahkan segala hak-hak keibuannya demi keselamatan manusia…. sehingga kita dapat berkata bahwa ia bersama-sama dengan Kristus menyelamatkan umat manusia.”[8]

2. Paus Pius XI (1922- 1939) menyebutkan Maria sebagai Co-Redemptrix sebanyak sekurang-kurangnya 6 kali dalam dokumen-dokumen kepausan-nya. Ia mengajarkan, “O, Bunda kekudusan dan belas kasih, yang ketika Anakmu menyelesaikan karya Keselamatan manusia di kayu salib, sungguh mengemban sengsara dengan Dia dan sebagai seorang Co-Redemptrix, menjaga di dalam kita buah berharga dari karya Keselamatan ini, dan dari belas kasihmu.”[9]

3. Paus Pius XII (1939-1958) menyebutkan Maria sebagai “rekan sejawat yang terkasih dari Sang Penyelamat” mengajarkan, “Oleh kehendak Tuhan, Perawan Maria yang terberkati bersatu tak terpisahkan dengan Kristus di dalam menyelesaikan karya Keselamatan, sehingga keselamatan kita mengalir dari kasih Yesus Kristus dan penderitaan-Nya secara erat bersatu dengan kasih dan dukacita Ibu-Nya.”[10]

4. Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dashyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.”[11]

5. Paus Yohanes Paulus II, dalam surat Ensikliknya, mengajarkan, “Betapa besar, dan betapa heroiknya ketaatan iman yang ditunjukkan Maria di hadapan kebijaksanaan Allah yang tak terpahami! Betapa lengkapnya ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan tanpa syarat, “menyerahkan kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah” kepada Ia yang segala jalan-jalan-Nya yang tak terselami! (lih. Rom 11:33). Melalui iman ini Maria secara sempurna bersatu dengan Kristus dalam hal pengosongan diri…. Di kaki salib Kristus, Maria mengambil bagian melalui iman di dalam misteri pengosongan diri yang tragis ini. Ini mungkin merupakan merupakan sebuah kenosis/ pengosongan diri yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Melalui iman Bunda Maria mengambil bagian di dalam kematian Kristus, di dalam kematian-Nya yang menyelamatkan…”[12]

Di tahun 1985, dalam sebuah pernyataan kepausan yang lain, Paus Yohanes Paulus mengajarkan bahwa gelar Co-Redemptrix berkaitan dengan penyaliban rohani yang dialami Maria di kaki salib Kristus: “Disalibkan secara rohani dengan Putera-Nya yang tersalib (lih. Gal 2:20), ia [Maria] memandang dengan kasih yang heroik kematian Tuhannya, “dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, dengan penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.”[13]… seperti ia berada di dalam cara yang istimewa di dekat kayu salib Kristus, ia juga pasti mempunyai pengalaman istimewa dalam Kebangkitan-Nya. Nyatanya, peran Maria sebagai Co-Redemptrix tidak berhenti dengan kemuliaan Putera-Nya.”[14]

diambil dari website www.katolisitas.org
ditulis oleh Inggrid Listiati