Semoga bermanfaat untuk kita semua
Patut kita ketahui demi kesehatan kita semua....... .
KEKENTALAN DARAH DALAM TUBUH, MENGAPA TERJADI???
Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu "Mengapa harus minum air putih banyak-banyak. .?"
Well, sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut bisa
dijelaskan sbb:
Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air.
Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%.Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah :
Otak dan Darah. !!
Otak memiliki komponen air sebanyak 90%,
Sementara darah memiliki Komponen air 95%.
Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari.
Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok.
Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi.
Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?
Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...?
Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri.Dari otak...?
Belum sampai segitunya (wihh...bayangkan otak kering gimana jadinya...),
melainkan dari sumber terdekat : Darah. !!
Darah yang disedot airnya akan menjadi kental..
Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.
Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah)
Ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah.
Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisamenyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.
Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan 400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah
Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak ' kan ...?
Nah saat darah kental meng alir lewat otak, perjalanannya agak terhambat..
Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen,
Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan...)
Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat
Bila darah mengental... ),maka serangan stroke bisa lebih lekas datang
Sekarang tinggal anda pilih: melakukan "investasi" dengan minum sedikitnya 8 gelas sehari- atau- "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.
Anda yang pilih...!
SUMBER : email
Santo Yohanes Pemandi adalah sosok orang kudus yang diambil sebagai teladan bagi umat di Wilayah B, Paroki Santo Yusup Karangpilang, Surabaya. Keteladanan Santo Yohanes Pemandi dapat kita jadikan sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Senin, Januari 18, 2010
Sabtu, Januari 09, 2010
PROFIL KH. ABDURRACHMAN WAHID
Abdurrahman Wahid
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk".[2] Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".[2]
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan[3]. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.
Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.[4][5] Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.[5] Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.[5]
Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir perang tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya[6]. Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.
Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.[7]
Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny juga aktif berpolitik di Partai Kebangkitan Bangsa dan saat ini adalah direktur The Wahid Institute.
Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan strok. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Ia wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.47 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri.[65] Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.[66]
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership. [67]
Wahid ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.[5]
Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.[68] Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu.[69] Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.[69]
Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.[70][71] Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.[70] Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.[70]
Sumber : http://id.wikipedia .org
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk".[2] Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".[2]
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan[3]. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.
Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.[4][5] Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.[5] Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.[5]
Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir perang tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya[6]. Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.
Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.[7]
Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny juga aktif berpolitik di Partai Kebangkitan Bangsa dan saat ini adalah direktur The Wahid Institute.
Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan strok. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Ia wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.47 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri.[65] Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.[66]
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership. [67]
Wahid ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.[5]
Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.[68] Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu.[69] Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.[69]
Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.[70][71] Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.[70] Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.[70]
Sumber : http://id.wikipedia .org
PROFIL FRANS SEDA
Dedikasi dan Integritas untuk Bangsa
Franciscus Xaverius Seda salah seorang putera terbaik bangsa kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926. Mantan Menteri Perkebunan (1963-1964), Menteri Keuangan (1966-1968) dan Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) ini seorang politisi, tokoh gereja, pengamat politik dan pengusaha Indonesia yang berdedikasi dan intergritas tinggi kepada kemajuan dan kesatuan Indonesia.
Nama Lengkap:
Franciscus Xaverius Seda
Lahir :
Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926
Agama :
Katolik
Pendidikan :
-SD, Flores (1940)
-MULO/HIK, Muntilan dan SMP BOPKRI, Yogyakarta (1946)
-HBS, Surabaya (1950)
-Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Negeri Belanda (1956)
Karir :
-Anggota KRIS (1945-1946)
-Ketua Seksi Penerangan Kongres Pemuda Indonesia (1950)
-Penasihat Ekonomi Gubernur Militer Nusa Tenggara, Denpasar, Bali (1956)
-Ketua Partai Katolik Indonesia (1961-1968)
-Menteri Perkebunan (1964-1966)
-Menteri Pertanian (1966)
-Menteri Keuangan (1966-1968)
-Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973)
-Duta Besar RI untul Begia dan Luksemburg/Kepala Perwakilan RI pada -Masyarakat Ekonomi Eropa, Brussel (1973-1976)
-Anggota DPA (1976-1978). Pendiri dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya (1960- 1964)
-Wakil Ketua Yayasan Bentara Rakyat
-Ketua Yayasan Atma Jaya. Anggota Dewan Komisaris PT Gramedia (1970-sekarang)
-Komisaris PT Narisa dan PT Narisa Jaya (1978)
Sumber : www.tokohindonesia.com
Franciscus Xaverius Seda salah seorang putera terbaik bangsa kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926. Mantan Menteri Perkebunan (1963-1964), Menteri Keuangan (1966-1968) dan Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) ini seorang politisi, tokoh gereja, pengamat politik dan pengusaha Indonesia yang berdedikasi dan intergritas tinggi kepada kemajuan dan kesatuan Indonesia.
Nama Lengkap:
Franciscus Xaverius Seda
Lahir :
Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926
Agama :
Katolik
Pendidikan :
-SD, Flores (1940)
-MULO/HIK, Muntilan dan SMP BOPKRI, Yogyakarta (1946)
-HBS, Surabaya (1950)
-Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Negeri Belanda (1956)
Karir :
-Anggota KRIS (1945-1946)
-Ketua Seksi Penerangan Kongres Pemuda Indonesia (1950)
-Penasihat Ekonomi Gubernur Militer Nusa Tenggara, Denpasar, Bali (1956)
-Ketua Partai Katolik Indonesia (1961-1968)
-Menteri Perkebunan (1964-1966)
-Menteri Pertanian (1966)
-Menteri Keuangan (1966-1968)
-Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973)
-Duta Besar RI untul Begia dan Luksemburg/Kepala Perwakilan RI pada -Masyarakat Ekonomi Eropa, Brussel (1973-1976)
-Anggota DPA (1976-1978). Pendiri dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya (1960- 1964)
-Wakil Ketua Yayasan Bentara Rakyat
-Ketua Yayasan Atma Jaya. Anggota Dewan Komisaris PT Gramedia (1970-sekarang)
-Komisaris PT Narisa dan PT Narisa Jaya (1978)
Sumber : www.tokohindonesia.com
Sabtu, Desember 19, 2009
A Christmas Story
NIGHT OF MIRACLES
Once upon a December, there were storm with the raging thunder which caused a city to death. Inside their safe and warm house, all of the people laid and waited until the storm stopped, except two persons who did not have any shelter. They were a father and his son. It was Christmas Eve and everybody was too busy to notice them who stood in the corner of a corridor. The son moaned because he was so hungry.
“Just wait for a little more time, son. We’ll get through this. It’s Christmas Eve. It’s the night full of miracles,” said his father.
“But I’m hungry…” whispered the son.
The father stood with a sad expression, sad because of his incompetence to feed his son and let him starved. Finally, he said to his son.
“Wait a minute, son. I will find foods for you.”
And he left. He walked through night and storm to find anything to eat. At last, he saw a glimpse of a light from the corner of the street. He walked there.
“Excuse me…” he said with soft voice. And he stopped. He saw the most magnificent view he ever seen in his life. He saw rabbits, cats, dogs, deer, and many more animals gathered around the fire which was not dead. He gasped and made all of those animals looked at his worried and tired face.
“Hey, look! There is a human among us. Do you think he can join us??” asked the first rabbit, the one who stood nearest to him. He looked at the rabbit’s beautiful eyes.
“Excuse me…” he said slowly. “Do you have any food? My son is hungry.”
“No, but you can join us. Will you?” asked the dog near the fire.
“I can’t,” the man shook his head. “My son needs me. He is hungry.”
“Why would you even care about him? He is stubborn and selfish. You are not happy with him. He’s only your burden.”
The man was so shocked with what the animals said. Did it true? Did his son was only a burden for him? Well, he was hungry too but his son never asked. Did he really need to do all of this just for his stubborn and selfish son?
“No, I can’t,” said the man. His voice was louder than he and the animals thought it would be. “My son needs me. Thank you for your help but I will look somewhere else. Good bye…” and he went away. He went back to the storm.
“What a foolish man, indeed…” whispered the animals.
In another ends of street, he saw another light. He came closer and saw a beggar was freezing inside a garbage bin which was opened. The beggar had a bottle of alcoholic drink with him.
I guess he used that alcohol to warm himself. I wonder if I could asked for a little of it just to warm my body.
He tried to wake the beggar up but the beggar didn’t move at all. So he tried to peek at the bottle. It was half empty and the man chose not to take the bottle. He looked at the beggar shoulders that were trembling like if there was an earthquake. He took his jacket off and put it around the beggar’s body.
“There. It must be warmer for you. It’s Christmas Eve and it is night of miracles, something good will happen to you. Good luck, my friend. May God and His angels be with you,” said the man and then left. He went back to the storm and he felt colder than before as his jacket had no longer on his body. He was freezing to death.
“Oh, dear… what am I supposed to do? My son is waiting for me to bring food and I let him down. I am so sorry my son…,” he whispered to the darkness.
So he went back to his son’s place where he last left him alone. His son was not there. He was so worried and looked for his son everywhere. He looked into every window where every one who saw him threw anything they could find at him. He was so sad. He thought he lost his son forever.
“Ooh… my son. I’m such a terrible father,” he cried.
And then he saw his son’s face in one of the window at the end of the street. His son was so happy. He was eating a big fresh baked turkey with a family. The man was relieved now that he knew his son was alright, full and warm.
Then he heard a voice calling him. He turned his head and saw the most beautiful person.
“Are you an angel?” he whispered so softly one could barely hear.
The beautiful lady nodded.
“Yes. And I’ve come for you, kind man. Would you come with me? God has been waiting for you.”
“But, my son…”
“It’s okay… now come…”
The man nodded and his life ended outside the window of his son’s new family. The next morning when his son walked out from the house, he found his father’s body outside the window. His father was smiling and then he heard such a soft and gentle voice said,” I Love You, son.” He heard it as if it came from his own heart.
And he cried in silence. “I love you too, Father,” he whispered, gently held his father’s dead body in his arms.
by Lupita 6B
Once upon a December, there were storm with the raging thunder which caused a city to death. Inside their safe and warm house, all of the people laid and waited until the storm stopped, except two persons who did not have any shelter. They were a father and his son. It was Christmas Eve and everybody was too busy to notice them who stood in the corner of a corridor. The son moaned because he was so hungry.
“Just wait for a little more time, son. We’ll get through this. It’s Christmas Eve. It’s the night full of miracles,” said his father.
“But I’m hungry…” whispered the son.
The father stood with a sad expression, sad because of his incompetence to feed his son and let him starved. Finally, he said to his son.
“Wait a minute, son. I will find foods for you.”
And he left. He walked through night and storm to find anything to eat. At last, he saw a glimpse of a light from the corner of the street. He walked there.
“Excuse me…” he said with soft voice. And he stopped. He saw the most magnificent view he ever seen in his life. He saw rabbits, cats, dogs, deer, and many more animals gathered around the fire which was not dead. He gasped and made all of those animals looked at his worried and tired face.
“Hey, look! There is a human among us. Do you think he can join us??” asked the first rabbit, the one who stood nearest to him. He looked at the rabbit’s beautiful eyes.
“Excuse me…” he said slowly. “Do you have any food? My son is hungry.”
“No, but you can join us. Will you?” asked the dog near the fire.
“I can’t,” the man shook his head. “My son needs me. He is hungry.”
“Why would you even care about him? He is stubborn and selfish. You are not happy with him. He’s only your burden.”
The man was so shocked with what the animals said. Did it true? Did his son was only a burden for him? Well, he was hungry too but his son never asked. Did he really need to do all of this just for his stubborn and selfish son?
“No, I can’t,” said the man. His voice was louder than he and the animals thought it would be. “My son needs me. Thank you for your help but I will look somewhere else. Good bye…” and he went away. He went back to the storm.
“What a foolish man, indeed…” whispered the animals.
In another ends of street, he saw another light. He came closer and saw a beggar was freezing inside a garbage bin which was opened. The beggar had a bottle of alcoholic drink with him.
I guess he used that alcohol to warm himself. I wonder if I could asked for a little of it just to warm my body.
He tried to wake the beggar up but the beggar didn’t move at all. So he tried to peek at the bottle. It was half empty and the man chose not to take the bottle. He looked at the beggar shoulders that were trembling like if there was an earthquake. He took his jacket off and put it around the beggar’s body.
“There. It must be warmer for you. It’s Christmas Eve and it is night of miracles, something good will happen to you. Good luck, my friend. May God and His angels be with you,” said the man and then left. He went back to the storm and he felt colder than before as his jacket had no longer on his body. He was freezing to death.
“Oh, dear… what am I supposed to do? My son is waiting for me to bring food and I let him down. I am so sorry my son…,” he whispered to the darkness.
So he went back to his son’s place where he last left him alone. His son was not there. He was so worried and looked for his son everywhere. He looked into every window where every one who saw him threw anything they could find at him. He was so sad. He thought he lost his son forever.
“Ooh… my son. I’m such a terrible father,” he cried.
And then he saw his son’s face in one of the window at the end of the street. His son was so happy. He was eating a big fresh baked turkey with a family. The man was relieved now that he knew his son was alright, full and warm.
Then he heard a voice calling him. He turned his head and saw the most beautiful person.
“Are you an angel?” he whispered so softly one could barely hear.
The beautiful lady nodded.
“Yes. And I’ve come for you, kind man. Would you come with me? God has been waiting for you.”
“But, my son…”
“It’s okay… now come…”
The man nodded and his life ended outside the window of his son’s new family. The next morning when his son walked out from the house, he found his father’s body outside the window. His father was smiling and then he heard such a soft and gentle voice said,” I Love You, son.” He heard it as if it came from his own heart.
And he cried in silence. “I love you too, Father,” he whispered, gently held his father’s dead body in his arms.
by Lupita 6B
Langganan:
Postingan (Atom)