Kamis, Desember 30, 2010

Ketika Anda Mengabaikan Satu Komuni Kudus

KETIKA ANDA MENGABAIKAN SATU KOMUNI KUDUS

Oleh : Rm. Francis J. Peffley

Patutlah anda mempertimbangkan kerugian apa saja yang anda alami setiap kali melewatkan kesempatan untuk menyambut Komuni Kudus.
  1. Anda melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Yesus secara pribadi. Yesus, yang adalah Sumber dari segala kekuatan rohani dan segala kekudusan;
  2. Anda kehilangan penambahan rahmat pengudusan secara istimewa, yang menjadikan jiwa anda lebih berkenan bagi Tuhan;
  3. Anda kehilangan sebagian rahmat sakramen yang memberi anda hak untuk memperoleh pertolongan istimewa di saat - saat pencobaan serta dalam melaksanakan tugas - tugas harian anda;
  4. Anda kehilangan kesempatan emas dihapuskannya segala dosa - dosa ringan anda;
  5. Anda kehilangan pengaruh perlindungan khusus yang dianugerahkan setiap Komuni Kudus untuk melawan hawa nafsu;
  6. Anda kehilangan kesempatan dihapuskannya hukuman sementara akibat dosa - dosa anda, baik sebagian atau bahkan seluruhnya;
  7. Anda kehilangan sukacita rohani, kesenangan serta kenikmatan khusus yang diperoleh dari menyambut Komuni Kudus dengan penuh cinta;
  8. Anda kehilangan sebagian kemuliaan yang boleh dinikmati tubuhmu pada saat kebangkitanNya pada akhir jaman;
  9. Anda kehilangan sebagian besar derajat kemuliaan yang boleh anda miliki di Surga untuk selama - lamanya;
  10. Anda dapat kehilangan:
  • kemenangan mutlak atas kelemahan atau hawa nafsu
  • rahmat - rahmat khusus yang telah lama dimohon dalam doa
  • pertobatan atau keselamatan jiwa - jiwa
  • pembebasan seorang sanak atau seorang teman dari Api Penyucian
  • banyak rahmat bagi orang lain, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal
Apakah tidur lebih lama beberapa menit dapat menggantikan segala kerugian diatas? Harta apakah yang dicari sehingga begitu banyak orang Katolik merugikan dirinya sendiri setiap hari dengan mengabaikan Misa Kudus?

Persiapan terbaik untuk menyambut Komuni Kudus adalah dalam misa. Pada saat ajal, penghiburan terbesar bagi kita adalah misa - misa di mana kita ikut ambil bagian dan Komuni Kudus yang kita sambut.

With Ecclesiastical Approval
Chicago, December 6, 1940

Sumber : "When you Miss One Holy Communion" by Fr. Peffley

diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya
atas ijin Fr. Francis J. Peffley

Rabu, Desember 15, 2010

INFO KWI 2010

Promulgasi 50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia


Pada 3 Januari 1961, Paus Yohanes XXIII menganugerahkan Hirarki Episkopal kepada Gereja Katolik di Indonesia. Berkaitan dengan peringatan peristiwa ini, Sidang Tahunan KWI 2010 mengamanatkan agar setiap keuskupan mengawali tahun 2011 dengan perayaan syukur atas 50 tahun Hirarki di Indonesia. Keuskupan Bandung bersama-sama memperingati peristiwa iman dengan Ekaristi Syukur 50 Tahun Hirarki di setiap paroki/kapel pada 1-2 Januari 2011.
Berikut adalah Promulgasi 50 tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia yang diterbitkan oleh KWI.


SURAT KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA

SYUKUR ATAS LIMA PULUH TAHUN
HIRARKI GEREJA KATOLIK DI INDONESIA

Pada tanggal 3 Januari 2011 Gereja Katolik Indonesia pantas menghaturkan syukur yang berlimpah kepada Tuhan karena 50 tahun yang lalu yakni pada tanggal 3 Januari 1961

Paus Yohanes XXIII melalui Konstitusi Apostolik QUOD CHRISTUS ADORANDUS menganugerahkan

HIRARKI EPISKOPAL kepada Gereja Katolik di Indonesia.

Penganugerahan ini merupakan pengakuan Takhta Suci bahwa Gereja Katolik di Indonesia sanggup berdiri sendiri sebagai hirarki karena:

1) Gereja Katolik di Indonesia memiliki kemampuan menjamin kelangsungan keberadaannya serta pengembangannya secara kuantitatip dan kualitatip;
2) Gereja Katolik di Indonesia memiliki kemampuan menjamin komunikasi persaudaraan para murid Yesus antar gereja-gereja setempat baik nasional maupun internasional;
3) Gereja Katolik di Indonesia memiliki kemampuan menjamin kelanjutan pelaksanaan karya misi ke dalam dan ke luar;
4) Gereja Katolik di Indonesia memiliki kemampuan berkembang menjadi Gereja pribumi dengan tetap berpegang teguh pada hakekat Gereja yang universal;
5) Gereja Katolik di Indonesia memiliki kemampuan berkembang menjadi Gereja dewasa yang bertanggung-jawab penuh dalam pengadaan tenaga-tenaga pastoral (klerus dan awam) dan sarana-sarana lain yang mendukung pengembangan dirinya sebagai GEREJA KRISTUS yang sejati.
6) Gereja Katolik di Indonesia memiliki kemampuan berkembang menjadi Gereja yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan bangsa Indonesia yang plural, sedemikian sehingga Gereja Katolik sebagai kesatuan maupun setiap anggotanya sungguh 100% Katolik dan 100% Indonesia.

Peristiwa yang bersejarah ini tidak cukup hanya untuk dikenang! Setelah 50 tahun mendapat anugerah pengakuan ini kita pantas merefleksi diri sampai di mana kita memaknai pemberian wewenang ini untuk memacu kemandirian kita sebagai GEREJA INDONESIA dalam segala segi kehidupan menggereja di tanah air tercinta ini.

Sebagai ungkapan syukur atas 50 tahun Hirarki di Indonesia, Sidang Tahunan KWI 2010 menyetujui, agar setiap Keuskupan merayakan Ekaristi pada awal Januari 2011. Hendaknya peristiwa iman tersebut dijadikan kesempatan melanjutkan penulisan Sejarah Gereja Katolik Indonesia, yang dilengkapi dengan sejarah-sejarah masing-masing Keuskupan.

Sebagai puncak peringatan 50 tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia akan diselenggarakan pada Sidang Tahunan KWI 2011.

Semoga Maria, Bunda Gereja, mengantar kita kepada kedewasaan iman dalam Kristus. Berkat Tuhan melimpah kepada seluruh bangsa.

Jakarta, 8 Desember 2010

P R E S I D I U M KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI),


Mgr. Martinus Situmorang, OFM Cap. Mgr. Johannes Pujasumarta
Ketua Sekretaris


Sumber : Keuskupan Bandung

Jumat, November 19, 2010

Sharing Pelayanan

KUASA TUHAN DIBALIK LUKA

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

“Rumah sederhana itu menjadi saksi ketabahan iman”. Aku bertandang ke rumah itu sesuai dengan janjiku dengan seorang ibu setengah baya di sebuah rumah duka. Aku duduk di sofa dengan menikmati suara “tokek”. Mataku tertuju pada ayat Firman Tuhan yang difigura sangat indah : “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Ayat itu bukan sekedar hiasan, tetapi merupakan gambaran akan perjuangan iman seorang ibu di tengah keraguan akibat musibah besar yang menimpanya. Ibu itu menjadi korban ledakan gas. Suaminya meninggal dunia karena ingin menyelamatkan istri dan anak-anaknya walaupun sebenarnya ia berada di halaman ketika rumahnya terbakar. Cinta terhadap keluarganya ternyata telah mengalahkan keselamatan dirinya seperti cinta Tuhan Yesus bagi umat manusia : ““Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Seluruh badan ibu itu cacat akibat luka bakar, kecuali wajahnya yang disyukurinya karena penting sebagai penjual makanan. Di tengah keraguan akan kebaikan Tuhan akibat musibah yang menghantamnya, ia terus berjuang untuk tetap melangkah di dalam iman. “Praise and Worship” (Pujian dan Penyembahan) kepada Tuhan ternyata merupakan kuncinya. Pujian dan Penyembahan telah memelihara mata rohaninya sehingga ia tetap mampu melihat kebajikan Tuhan di setiap jengkal peristiwa kehidupan. “Walaupun badanku cacat, aku tetap berjalan tegak karena Dia yang aku sembah”, katanya bangga.

“Tuhanku, luar biasa dan dasyat,” aku mengungkapkan kekagumanku terhadap Yang Mahakuasa. Tuhan memampukan seorang manusia yang sempat terpuruk untuk tidak berpikiran terlalu kecil tentang apa yang dapat dilakukan Allah di dalam hidupnya dan bersiap bagi Allah yang akan melakukan hal-hal besar (Stormie Omartian. Doa Yang Mengubah Segala Sesuatu : Kuasa Tersembunyi Dalam Pujian. Immanuel. Jakarta. 2006. Hlm. 225). Semangat hidup ibu yang cacat itu memotivasiku untuk tidak mengeluh terhadap luka-luka di kulitku yang muncul tenggelam tergantung kadar gula dalam darahku. Selama ini aku menderita bukan karena rasa sakit yang ditimbulkan dari luka-luka fisik yang menganga, tetapi akibat pikiran negatif dari diriku sendiri bahwa orang mencemoohkan aku. Dengan terus menerus mengeluh terhadap keadaanku, aku sebenarnya membangun sebuah tembok pembatas antara aku dan Tuhan. Mataku terhalang untuk melihat berkat Tuhan dibalik luka-luka yang harus aku tanggung. Kini jiwaku terbuka terhadap berkat kasih Tuhan melalui perhatian banyak orang kepadaku seperti pemberian berbagai macam obat sampai memenuhi kamar atau teguran kasih : “Romo, hati-hati ya dengan makanan, kami membutuhkan Romo”. Aku sekarang bisa mengatakan “Don’t worried, be happy”.

Aku bertekad untuk terus membangun imanku dengan doa pujian sederhana setiap saat. Aku dapat melakukannya di kamar, di ruang doa, dan di tengah kemacetan kota Jakarta dengan mengikuti lagu-lagu rohani dari tape recorder. Pujian sederhana akan mengalirkan iman yang baru dalam jiwa. Pujian kepada Allah akan membimbing jiwa untuk membiarkan diri dikuasai oleh Sabda-Nya seperti yang ditekankan oleh Kardinal Carlo Maria Martini, S.J. dalam latihan rohani. Here I recall the second annotation of the Spiritual Exercises , which calls on us to let ourselves be penetrated by God’s Words (Cardinal Carlo Maria Martini, SJ. Abraham Our Father in Faith. Gujarat Sahitya Prakasih. India. 1992. P. 8). Yang penting : “Jangan takut dianggap kerasukan setan oleh segelintir orang karena rahmat Allah tidak akan pernah hilang !”. Sabda Allah yang didetentangkan dalam pujian akan membuat kebajikan Allah semakin gamblang disetiap sudut jiwa. Tuhan memberkati.

Bacaan Rohani :

1 Cardinal Carlo Maria Martini, SJ. Abraham Our Father in Faith. Gujarat Sahitya Prakasih. India. 1992.

2 Stormie Omartian. Doa Yang Mengubah Segala Sesuatu : Kuasa Tersembunyi Dalam Pujian. Immanuel. Jakarta. 2006.



dikutip dari email Bpk. Arifin Muliawan

Pesan Natal Bersama 2010



PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010

"Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia"
(bdk. Yoh. 1:9)


Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

•1. Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup"1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: "Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"2. Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: "Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dunia".

•2. Saudara-saudari terkasih,
Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam ke-rukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan "peradaban" yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; "peradaban" yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka tidak memiliki kesempatan bersuara; "peradaban" yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian dari pada budaya cinta yang menghidupkan.
Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penang-gungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kiner-ja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. So-rotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terung-kap dengan praktek korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat mempri-hatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.
Kenyataan ini yang berlawanan dengan keadaan masyarakat yang sema-kin jauh dari sejahtera, termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin mem-perparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.
Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus menjelma menjadi ma-nusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang menolak Terang itu, namun Terang yang sesungguhnya ini membawa pengha-rapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu me-numbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kege-lapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang"3.
Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, „Ÿ dan demikian juga menya-tukan diri kita dengan „Ÿ karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.
Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di da-lam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.

•3. Saudara-saudari terkasih,
Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan ber-sama.
•· Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan"6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.
•· Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejah-tera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkrit seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.
•· Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.
•· Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik iba-dat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetap-kan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.
Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7.[1]Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:


SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011



Jakarta, 12 November 2010

Atas nama




PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA KONFERENSI WALIGEREJA

DI INDONESIA (PGI), INDONESIA (KWI),



Pdt. Dr. A.A. Yewangoe Mgr. M.D. Situmorang OFMCap.

Ketua Umum Ketua



Pdt. Gomar Gultom, M.Th. Mgr. J.M. Pujasumarta

Sekretaris Umum Sekretaris Jenderal