Rabu, Maret 23, 2011

MUDIKA

Stasi-stasi Perjuangan Kaum Muda

Awal 1900an

Rm Van Lith mendirikan HIK (Sekolah Guru Katolik) di Muntilan untuk mendidik orang-orang muda sebagai guru bagi bangsanya. Lahirlah generasi pertama intelektual Katolik Indonesia. Frans Seda adalah generasi terakhir yang langsung dididik Rm. Van Lith.

1923

Agustus, 30 orang guru muda berusia 22-23 tahun alumni sekolah guru mendirikan Perkumpulan Katolik untuk aksi politik bagi orang-org Jawa. Jumlah orang di Jawa saat itu sekitar 10.000 orang.

1925

Februari, berdiri Perkumpulan Politik Katolik Jawa.

1930

Organisasi politik umat Katolik yang dimotori orang-orang muda bersatu dalam Persatian Politik Katolik Indonesia. Ada 41 cabang di seluruh Indonesia.

1930-1949

ada banyak sekali komunitas kaum muda Katolik, mulai dari Muda Katolik, Muda Wanita Katolik, Pandu Katolik, misdinar, hingga kelompok-kelompok olahraga gereja.

15 November 1945

Lahir AMKRI, Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia

1948-1950

Kasimo Plan, IJ Kasimo, Menteri Muda Kemakmuran, Ketua Partai Katolik, meluncurkan program tiga tahun untuk peningkatan produksi pertanian

1949

7-12 Desember, dilaksanakan Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia, Terjadi penyatuan semua ormas Katolik ke dalam satu organisasi tunggal untuk tiap satu kelompok umat. Partai Katolik menjadi partai satu-satunya bagi umat katolik Indonesia. Muda Katolik Indonesia muncul menngantikan AMKRI sebagai satu-satunya organisasi untuk kaum muda, tetapi Pandu Katolik masih dipertahankan.

Muda Katolik Indonesia semula berorientasi ke dalam paroki, seperti Mudika saat ini, tetapi juga terlibat dalam forum pemuda nasional dan regional.

Desember 1949

Pemuda Munajat, pemuda Katolik, menjadi satu-satunya utusan organisasi pemuda yang ikut dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda, ia mewakili Mgr Sugiyopranata, SJ, yang memegang peran kunci dalam lobby politik di negeri Belanda melalui partai Katolik Belanda di parlemen.

1950an

Gerakan Pancasila dirintis. Gerakan ini inisiatif dari Mgr. Soegijapranata sebagai counter dominasi ideologi pada kehidupan masyarakat (dikemudian hari pola ini dipakai untuk membuat sekber Golkar). Gerakan Pancasila terdiri dari berbagai organisasi (nelayan, petani, paramedik, usahawan) yang masing-masing otonom dan diikat oleh adanya penasihat susila. Penasihat susila ini adalah 'pasukan khusus' Soegijapranata dan terdiri dari pastor-pastor muda: Kadarman, Dikjstra, Daniels, Beek, belakangan Melchers dan Albrecht juga.

Gerakan Pancasila dalam perkembangannya bertransformasi menjadi beragam organisasi termasuk Bina Swadaya dan CU. Para penasihat susila mengembangkan lembaga sesuai minatnya. Kadarman mendirikan PPM dan mendorong Atma Jaya dan Bhumiksara, Daniels membangun Sanggar Pratiwi dan Kompas, Dikjstra bergerak di pedesaan dengan membangun Bina Swadaya dan Bina Desa, Beek dengan CSIS, Melchers meneruskan Purba Danarta yang ditinggal Dikjstra, Albrecht mengembangkan CU dan terakhir berkarya di Timtim.

1955

Karena situasi politik MKI merubah orientasi dari dalam ke luar, ke bentuk-bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

1960

Juli, Muda Katolik Indonesia dalam kongres di Solo berubah menjadi Pemuda Katolik atas usul Munajat.

1960an

Pater Beek merintis kaderisasi politik KASBUL untuk mahasiswa/intelektual muda Katolik untuk menghasilkan kader-kader yang militan. Generasi ini memunculkan tokoh-tokoh politik Katolik seperti JB. Sumarlin, Cosmas Batubara, Harry Tjan Silalahi, Wanandi bersaudara, dan lain-lain.

1965

Melawan komunisme, Pemuda Katolik dan PMKRI memegang peran kunci dalam pergerakan pemuda. PMKRI di kota besar dan di lingkaran kekuasaan, PK di desa-desa dan kota kecil, di lingkaran massa. PMKRI bersama HMI lenjadi leader dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), Pemuda Katolik dan ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia) lader dalam KASI (Kesatuan Aksi Siswa Indonesia), sementara Partai katolik menggalang Front Pancasila, dan WKRI memimpin Kesatuan Aksi Wanita Indonesia. Untuk membendung komunisme dengan dukungan hirarkhi para tokoh katolik membentuk Front Katolik Tanpa Lubang.

1973

Muncul UU Kepartaian. Partai Katolik sebagai payung bersama peran sosial politik kemasyarakatan umat Katolik pun hilang melebur ke dalam Partai Demokrasi Indonesia. Akibatnya kerangka sistem peran sosial politik Katolik Indonesia yang dibangun dalam KUKSI 1949 pun runtuh.

1974

Peran sosial politik kaum muda Katolik masih sangat terasa di tanah air, ini nampak dalam Kongres KNPI pertama 27 Okt 1974, PMKRI dan Pemuda Katolik menjadi delegasi yang mewakili hampir 50 % delegasi KNPI propinsi/kabupoaten dari seluruh Indonesia. Setelah itu mulai terjadi penurunan dinamika dengan cepat.

1970-1980an : SPIRITUALITAS

Bentuk-bentuk pendampingan seperti Choice, Karismatik, Anthiokhia mulai bermunculan. Di Bandung Gereja Mahasiswa mulai dirintis. Berlangsung Retret Nasional sebanyak 5 angkatan ( ’75, ’76, ’77, ’78, 80) dipsonsori oleh Romo Dahler. Gladi Rohani lahir dari gerakan para alumni Retnas. Pendekatan CIVITA KAJ mulai muncul dan membentuk trend baru pendampingan yang berorientasi spiritualitas dan pengembangan karakter, dengan satu pertanyaan kunci WHO AM I. Muncul pula KASIS (Kaderisasi Basis). Di UGM muncul Misa Kampus dengan motor-motor seperti Hani Handoko dkk.

1985

Karena situasi internal pendampingan kaum muda yang makin lemah serta munculnya UU Keormasan (dalam kerangka depolitisasi Orde Baru) yang melarang ormas ada dalam lingkungan tempat ibadat, diputuskan PMKRI dan PEMUDA KATOLIK terlepas dari struktur teritorial gereja (paroki) dan mengikuti struktur adminstratif negara (desa, kecamatan, kota, kabupaten, dst), serta keduanya berfungsi mengisi peran eksternal gereja (sosial politik), sementara itu sebagai gantinya dibentuklah Mudika untuk kaum muda teritorial, dan KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) untuk mahasiswa/kategorial. Akibatnya PEMUDA KATOLIK dan PKMRI kehilangan basis massa kader, sementara KMK dan Mudika kehilangan kesadaran kritis dan tanggung jawab sosialnya, tebenam ke dalam dirinya sendiri.

1980-1990an : KELOMPOK-KELOMPOK SOSIAL

Era pola kaderisasi lama berlalu, dari orientasi politik kekuasaan (power) menjadi politik kemanusiaan (pro KLMT). Muncul kelompok-kelompok Katolik muda yang sangat beragam sifatnya, non-hirarkhis, serta berorientasi sosial politik kemasyarakatan. Di Yogya muncul VDC (Volunteer Development Corps), VSSC (Virtus Sociale Study Club), dan SOLID. Model-model live-in, teater rakyat, kelompok diskusi, bahkan pandampingan desa bermunculan. Gemakarya juga muncul (di akhir ‘90an berubah menjadi LSM Cakra Indonesia. Berkembang ITRY (Institut Teater Rakyat Yogyakarta). Peran para frater Jesuit dengan proyek sosial mereka sangat berpengaruh. Gerakan sosial kaum muda Katolik masa ini sangat terinspirasi Teologi Pembebasan. Gerakan Romo Mangun dan karya-karyanya menyemangati banyak orang.Di solo Komunitas seperti Keping (Kelompok Pinggiran) juga tumbuh. Selain itu komunitas yang lebih rohani seperti bengkel Rohani, Bahtera Rohani, Jarkom Pelajar Katolik untuk pertama kali muncul. Dua simpul seni yang dimotori orang muda Katolik muncul di Yogyakarta : teater Introspeksi di Kotabaru oleh Landung Simatupang, Lono Simatupang, Nasarius Sudaryono di Utara, dan teater Gandrik di Yogya Selatan.

1998

Peristiwa Reformasi, peran kaum muda Katolik ada tetapi bersifat personal, bukan hasil pendekatan pendampingan yang tertata, tetapi hasil pencarian individual. Tetapi dua gerakan yang dimotori mahasiswa di dua kampus Katolik di Yogyakarta muncul memegang peran penting dalam gerakan Mei 1998 di Yogyakarta : FAMPERA di Atmajaya dan SOMASI dari USD.

Generasi 2000

Komersialisasi dan pencabutan subsidi pendidikan oleh negara dan tekanan ekonomi menjadikan tekanan studi serta orientasi kerja sangat menonjol, kesadaran dan kerinduan organisasi melemah luar biasa. Di sisi lain, sejak remaja kebudayaan populer yang serba gemerlap, penuh mimpi terus-menerus dijejalkan melalui media massa dan teknologi, ini melahirkan generasi hedonis dan individualis.

Model pelatihan KASBUL berganti menjadi Madha. Model-model komunitas pemerhati kaderisasi bermunculan dan berlangsung di banyak tempat, ada yang lokal ada yang jaringan. ANV dan Justice and Peace merambah kaum muda. Model-model pendaampingan kaum muda terkait spiritualitas juga menguat (Karismatik, KTM). Komunitas Sant Egidio menggabungkan gerakan doa dengan karya langsung di tengah masyarakat. Gladhi mahasiswa kembali bergerak melalui pelatihan CBT.

dari email rekanku, Lilik Krismantoro

Senin, Maret 14, 2011

Informasi

Situs Kongregasi dan Ordo Imam yang berkarya di Indonesia

Dalam rangka promosi panggilan imamat, berikut list ordo dan kongregasi
imam yang berkarya di Indonesia beserta alamat websitenya agar para fans
bisa mengenal ordo dan kongregasi berikut lebih jauh.
Jika ada yang mengetahui alamat website ordo atau kongregasi lain yang tidak tercantum di
sini, mohon menginformasikannya.
Terima kasih. Semoga ada jiwa-jiwa yang terpanggil untuk berkarya di ladang Tuhan. Amin.

*Kongregasi Pasionis (CP)*
http://www.provrepa c.com/ (Prov. Indonesia)

*Serikat Hati Kudus Yesus (SCJ)*
http://www.scj. or.id/ (Prov. Indonesia)

*Serikat Sabda Allah (SVD)*
http://www.svdende.org/ (Prov. Ende)
http://www.svdjawa.org/ (Prov. Jawa)

*Misionaris Keluarga Kudus (MSF)*
http://msfmusafir. wordpress. com/ (Prov. Kalimantan)

*Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC)*
http://www.misacorindo.org/ (Prov. Indonesia)

*Serikat Yesus (SJ)*
http://provindo.org/ (Prov. Indonesia)

*Opus Dei*
http://seekingholiness.webnode. com/

*Ordo Saudara Hina Dina Fransiskan (OFM)*
http://ofm.or.id/ (Prov. Indonesia)

*Ordo Saudara Hina Dina Fransiskan Kapusin (OFM. Cap)*
http://portal.kapusin.org/ (Web Gabungan 3 Provinsi Kapusin di Indonesia -
The Most up to date)

http://pontianak.kapusin.org/ (Prov. Pontianak)
http://sibolga.kapusin.org/ (Prov. Sibolga)
http://medan.kapusin.org/ (Prov. Medan)

*Serikat Xaverian (SX)*
http://www.xaverind o.org/web/ (Prov. Indonesia)

*Ordo Pengkhotbah / Ordo Dominikan (OP)*
http://dominikanid.org/ (Prov. Indonesia)

*Ordo Karmelit (O. Carm)*
http://www.indocarm.org/ (Prov. Indonesia)

*Oblat Maria Immaculata (OMI)*
http://oblatindonesia.blogspot.com/ (Prov. Indonesia)

*Serikat Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC)*
http://www.indossccpro.com/ (Prov. Indonesia)

*Ordo Salib Suci (OSC)*
http://osc.or.id/ (Prov. Sang Kristus-Indonesia)

*Salesian Don Bosco (SDB)*
http://sdbindonesia.org/

*Missionary Sons of the Immaculate Heart of Mary (Claretians) (CMF)*
http://in.asclae. com/

*Diocesan (Pr)
http://www.unio- indonesia. org/
http://www.ucanews. com/diocesan- directory/

*Order of Cistercians of the Strict Observance - OCSO (Trappist)
http://sites. google.com/ site/rawaseneng/
http://www.ocso. org/index. php?option= com_mtree& task=viewlink& link_id=2450& Itemid=88& lang=en


Daftar ordo/kongregasi yang berkarya di Indonesia namun belum kami temukan /
memiliki website berbahasa Indonesia.

1. Congregation of the Immaculate Heart of Mary (CICM)
2. Congregation of the Disciples of the Lord (CDD)
3. Congregation of the Mission (Vincentians, Lazarists) (CM)
4. Order of Discalced Augustinians (Agustinian tidak berkasut) (OAD)
5. Order of Friars Minor Conventual (Conventual Franciscans) (OFM. Conv.)
6. Missionaries of the Company of Mary (Serikat Maria Monfortan) (SMM)

sumber:
http://indonesian- papist.blogspot. com/2010/ 07/situs- kongregasi- dan-ordo- imam-yang. html

dari milist : orangmuda@yahoogroups.com

Rabu, Maret 02, 2011

Mohon Bantuan

YARNI DENGAN FISTULA RECTO-VESICO-VAGINALIS


Suster Klara Duha OSF, seorang biarawati Fransiskan dari Gunungsitoli, Nias.
Beliau berkarya mendampingi para penderita sakit yang miskin dan tidak mampu.
Beliau berusaha agar mereka yang ‘terkucilkan dan tersingkirkan’ itu
mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Saat ini suster sedang mendampingi seorang ibu muda, 22 tahun, bernama Yarni
Helawa yang menderita FISTULA RECTO-VESICO-VAGINALIS.

Penderitaan Yarni diawali pada saat kelahiran anak pertamanya. Dia tidak
melakukan pemeriksaan kehamilan sebagaimana mestinya karena tidak mempunyai
biaya dan juga terjerat utang dari biaya pernikahan mereka. Sehingga hal
tersebut menjadi beban di awal kehidupan mereka.

Pada saat mendekati kelahiran, saat kesakitan mulai dirasakan, cepat-cepat
dipanggil dukun beranak yang ada di desa mereka. Dukun menyuruh mengedan, tapi
bayi tidak keluar juga. Diulang berkali-kali, hingga akhirnya dukun angkat
tangan dan menyerah tidak sanggup lagi untuk menolongnya. Lalu Yarni dibawa ke
Puskesmas.

Bidan memeriksa dan berusaha menolong persalinannya. Namun karena sering
mengedan akhirnya vagina dan sekitarnya robek, namun bayi tetap tidak keluar
juga. Cepat-cepat bidan merujuknya ke RSU Gunungsitoli. Dokter kandungan hampir
tidak mau menerima menangani Yarni karena melihat resiko yang tinggi yang akan
dihadapinya. Karena kondisi Yarni sudah lemah, akhirnya dokter kandungan
bersedia menanganinya. Yarni dioperasi. Yarni selamat, tapi bayi sudah meninggal
saat di kandungan. Dokter menyelesaikan luka operasinya (sectio caesaria)
sebagaimana mestinya, namun untuk robekan di bagian bawah (vagina dan
sekitarnya) dokter kandungan tidak berani mengambil tindakan. Robekan itu
membuat Yarni selalu kencing dan bercampur tinja. Dapat dibayangkan betapa
kotor, bau dan menjijikkan bagi kacamata kita. Direktur RSU sudah memberitahu
pemerintah agar membantu Yarni, namun belum datang juga. Penderitaan berlanjut,
sementara dokter spesialis yang bisa menangani Yarni tidak ada di RSU.

Hingga akhirnya, Direktur RSU menunggu kedatangan Suster Klara untuk
menolongnya. Susterlah yang menjadi tumpuan akhir buat mereka, mereka semua
angkat tangan akan persoalan ini.

Yarni, seorang penderita yang memerlukan tindakan dokter spesialis dan biaya
yang tidak sedikit, sekarang ini bergantung pada seorang suster biarawati yang
tidak memiliki kemampuan untuk bisa menyelesaikan persoalan itu sendirian.

Dengan Jejaring Solidaritas KBKK, suster bertemu dengan Dr. Linda yang bekerja
di RS Katolik Atmajaya Jakarta. Dr. Linda berusaha memfasilitasi persoalan
Yarni, sehingga akhirnya direncanakanlah suatu tindakan operasi untuk menutup
lubang antara usus besar (rectum) – kandung kemih (vesica) – vagina. Namun ini
termasuk operasi yang kompleks, sehingga memerlukan 3 tahapan dalam
pelaksanaannya, dan juga memerlukan biaya serta obat-obatan yang tidak sedikit
jumlahnya.

Untuk itu, sahabat-sahabat Kristus, yang telah diberikan kemampuan dan
kelebihan, inilah saatnya untuk mau berbagi (sesuai APP KAJ 2011). Dengarkanlah
dorongan hati di mana Yesus berbisik pada anda. Berikanlah yang terbaik dan
semaksimal yang anda bisa.

Selain kebutuhan uang yang tidak sedikit jumlahnya (lebih dari Rp 5 juta), juga
sangat diharapkan bantuan obat-obatan, di antaranya:
1. Suntikan Cephalosporin Generasi III (Cefotaxim)
2. Suntikan Metronidazol

Bantuan berupa uang dapat disalurkan langsung ke :
BCA KCU Medan No: 0222 0159 69 a/n Sr. Klara OSF Izanulo Duha Y.

Bantuan berupa obat dan barang-barang lainnya serta informasi lebih lanjut dapat
menghubungi:
Dr. Linda Nurtjahja – 0816 1649 179 atau PIN BB 20EA93BF.

Selain itu semua, mohon dukungan doa agar kasihNya selalu mengalir dalam
penyelesaian penderitaan Yarni dan kekuatan bagi Sr. Klara yang dengan setia
mendampinginya.


Tuhan memberkati kita semua,

Dr. Andreas Gunawan
Moderator Jejaring Solidaritas KBKK
0811 197 627

Selasa, Februari 01, 2011

Vatikan 2011

PESAN BAPA SUCI
PAUS BENEDICTUS XVI


UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-19
11 Februari 2011

“OLEH BILUR-BILURNYA KAMU TELAH SEMBUH” (1 Pet 2:24)

Saudara saudari terkasih,

Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, yang biasanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari. Hal ini, sebagaimana diharapkan oleh Venerabilis Paus Yohanes Paulus II, merupakan kesempatan yang baik dan tepat untuk merenungkan misteri penderitaan, terutama untuk mengajak komunitas-komunitas gerejani dan masyarakat sipil lainnya lebih peka terhadap saudara-saudari kita yang sakit. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi orang yang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi pusat perhatian kita, sehingga tak seorangpun dari mereka merasa dilupakan atau dipinggirkan. Karena sesungguhnya: “Tolok ukur kemanusiaan pada dasamya ditentukan oleh kaitan antara penderitaan dengan si penderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka dan berbelas-kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi” (Ensiklik “Spe Salvi”, No. 38). Semoga aneka inisiatif yang dirancang oleh masing-masing keuskupan pada peringatan ini menjadi suatu pendorong dan semakin efektif dalam memberi perhatian kepada mereka yang menderita, termasuk dalam konteks peringatan akbar yang akan dilangsungkan di tempat peziarahan gua Maria di Altotting, Jerman pada tahun 2013 nanti.

1. Saya masih ingat ketika dalam serangkaian kunjungan pastoral ke Turin, saya dapat berhenti sejenak dalam refleksi dan doa saya di depan kain Kafan Suci, di hadapan Wajah yang menderita, yang mengundang kita untuk merenungkan Diri-Nya, yang mau menerima beban derita manusia dari setiap jaman dan tempat, bahkan penderitaan kita, kesulitan-kesulitan kita, dosa­dosa kita. Betapa banyak orang beriman sepanjang sejarah telah mengunjungi kain kafan, yang digunakan untuk membungkus tubuh seorang yang disalibkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Injil yang telah disampaikan kepada kita tentang penderitaan dan wafat Yesus! Merenungkan hal ini adalah suatu undangan untuk merefleksikan apa yang ditulis oleh St. Petrus : “Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

Putera Allah telah menderita, la telah wafat, tetapi la telah bangkit kembali. Memang benarlah demikian karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut luka-lukaNya menjadi tanda penebusan, pengampunan dan perdamaian kembali kita dengan Bapa. Namun demikian peristiwa derita, wafat dan kebangkitan tersebut sekaligus juga menjadi ujian iman bagi para Murid dan iman kita. Setiap kali Tuhan berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya, para murid tidak dapat mengerti, mereka menolaknya dan menyangkalnya. Bagi mereka, sama dengan bagi kita, penderitaan itu selalu penuh dengan misteri, sulit untuk kita terima dan kita tanggung. Sebab peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Yerusalem dalam hari-hari itu, membuat dua orang Murid dari Emaus berjalan dengan hati sedih, dan hanya ketika Dia yang bangkit berjalan bersama dengan mereka, maka terbukalah mereka terhadap pemahaman yang baru (bdk. Lukas 24:13-31).

Bahkan Rasul Thomas sendiri menunjukkan kesulitannya untuk meyakini jalan penebusan melalui penderitaan : “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh.20:25). Namun sebelum Yesus menunjukkan luka­ luka-Nya, jawaban-nya (rasul Thomas) telah berubah menjadi sebuah pernyataan iman yang mengharukan: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Apa yang pada awalnya merupakan halangan besar, sebab hal ini merupakan tanda kegagalan Yesus yang nyata, menjadi bukti cinta yang begitu kuat, berkat perjumpaan dengan Dia yang telah bangkit: “Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya luka-luka don penderitaan kita, khususnya penderitaan yang bukan karena kesalahan-Nya sendiri, Allah semacam itulah yang pantas diimani” (Pesan Urbi et Orbi, Paskah 2007).

2. Saudara-saudari yang sedang sakit dan menderita, alangkah baik sekali bahwa melalui penderitaan Kristus kita dapat melihat, dengan mata pengharapan, semua kejahatan yang menimpa umat manusia. Berkat kebangkitan-Nya, Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukan derita dan kejahatan itu dari akarnya. Keangkuhan kejahatan Dia lawan dengan keagungan kasih-Nya. Oleh karena itu, la menunjukkan kepada kita bahwa jalan menuju kedamaian dan sukacita adalah Kasih: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh.13:34). Kristus, sang Pemenang atas maut, hidup dan tinggal di tengah-tengah kita. Dan bersama St. Thomas kita berkata : “Ya Tuhanku don Allahku!” Marilah kita mengikuti Tuhan yang selalu siap untuk mempersembahkan hidup kita bagi saudara­-saudara kita (1Yoh.3:16), menjadi pembawa kabar sukacita tanpa takut akan penderitaan. Inilah sukacita
Kebangkitan.

St. Bernardus pernah mengatakan: “Allah tidak dapat menderita, tetapi la dapat menderita bersama.” Allah, yang adalah Kebenaran dan Kasih dalam diri manusia, berkenan menderita bagi dan bersama dengan kita. la menjadi manusia supaya dapat menderita bersama dengan manusia dalam arti yang sebenarnya, dalam darah dan daging. Oleh karena itu, Dia telah masuk dalam diri seorang Manusia untuk berbagi dan menanggung derita bagi setiap penderitaan manusia. la menawarkan pengiburan terhadap semua penderitaan, suatu penghiburan karena keterlibatan kasih Allah, yang membuat bintang pengharapan bersinar (bdk. Ensiklik “Spe Solvi” 39).

Saya ulangi sekali lagi pesan ini kepada kamu, Saudara dan Saudari, supaya kamu menjadi saksi akan hal ini melalui derita, hidup dan imanmu.

3. Sambil menanti pertemuan di Madrid, Agustus 2011, pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia, saya juga akan menyampaikan suatu refleksi khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang pernah mengalami penderitaan penyakit. Seringkali, Penderitaan dan Salib Yesus menyebabkan ketakutan, karena seolah-olah menjadi penyangkalan terhadap kehidupan. Kenyataannya justru sangat berlawanan! Salib adalah Jawaban “ya” dari Allah bagi umat manusia, suatu ungkapan tertinggi dan terdalam kasih Allah, sumber yang mengalir untuk kehidupan kekal. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. la sendiri sanggup membebaskan dunia dari kejahatan dan menjadikan Kerajaan-Nya: kerajaan keadilan, perdamaian dan kasih tumbuh, kerajaan yang kita semua cita-citakan. (bdk. Pesan untuk Hari Kaum Muda Sedunia 2011, no. 3).

Kaum muda yang terkasih, belajarlah “melihat” dan “menjumpai” Yesus di dalam Ekaristi, di mana la hadir bagi kita secara nyata, yang menjadikan diri­Nya makanan untuk perjalanan kita, tetapi ketahuilah bagaimana mengenal dan melayani Dia, yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan, juga yang membutuhkan bantuanmu (bdk. Ibid, no. 4). Bagi kamu semua hai kaum muda, baik yang sakit maupun yang sehat, saya ulangi lagi undangan untuk membangun jembatan kasih dan solidaritas, supaya tidak seorangpun merasa sendirian, melainkan dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga besar anak-anak-Nya (bdk. Audiensi Umum, 15 November 2006)

4. Ketika merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan pandangan kita kepada Hati-Nya yang Mahakudus di mana kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling agung. Hati Tersuci adalah Kristus yang tersalib, dengan lambung-Nya tertembus oleh tikaman tombak, dari sanalah darah dan air mengalir (bdk. Yoh. 19:34): “simbol Sakramen-sakramen Gereja, sehingga semua orang yang ditarik kepada hati Sang Juru Selarnat, boleh minum dari sumber air keselamatan abadi” (Missa Romawi, Prefasi Hari Raya Hati Kudus Yesus). Khususnya kamu semua yang sedang menderita sakit, hendaknya merasakan betapa dekatnya dengan Hati Kudus Yesus yang penuh kasih dan ambilah air dari mata air ini dengan iman dan sukacita, sambil bercloa : “Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. 0 Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku” (doa St. Ignatius Loyola).

5. Mengakhiri pesan saya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya ingin mengungkapkan kasih saya bagi setiap orang, sambil merasakan keterlibatan saya di dalam penderitaan dan pengharapanmu sehari-hari dalam persekutuan dengan Kristus yang tersalib dan bangkit, hingga la memberimu damai dan kesembuhan batin. Semoga bersama Kristus yang telah wafat dan bangkit, Santa Perawan Maria yang kepadanya kita mohon dengan penuh iman, selalu menjagamu karena gelarnya adalah Pelindung orang sakit dan Penghibur orang yang menderita. Di bawah kaki salib, terpenuhilah di sana nubuat Simeon: hatinya sebagai Ibu tertembus pedang (bdk. Luk. 2:35). Dari jurang penderitaannya, karena partisipasinya dalam penderitaan Puteranya, Maria dimampukan menerima misi barunya: menjadi ibu Kristus di dalam anggota-anggota (Gereja-Nya). Pada saat penyaliban, Yesus menyerahkan kepada Maria setiap murid-Nya: “Inilah anakmu” (bdk. Yoh. 19:26-27). Kasih keibuan Maria bagi
Putera-nya menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan kita sehari­hari (bdk. Khotbah di Lourdes, 15 September 2008).

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya juga mengundang para penguasa untuk lebih menginventasikan lagi sistem-sistem kesehatan yang dapat menyediakan bantuan dan dukungan bagi yang menderita, terlebih mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan. Dan bagi semua keuskupan, saya menyampaikan salam kasih kepada para uskup, para imam, kaum religius, para seminaris, para petugas kesehatan, para sukarelawan dan semua orang yang membaktikan dirinya dengan kasih untuk merawat dan meringankan luka-luka setiap saudara-saudari yang sakit, di rumah-rumah sakit atau di panti-panti perawatan, maupun dalam keluarga. Dalam wajah-wajah orang-orang yang sakit itu, ketahuilah bagaimana agar dapat melihat Wajah di antara wajah-wajah itu: Wajah Kristus sendiri.

Saya kenangkan kamu semua dalam doa saya, seraya memberikan berkat khusus apostolik.